SEJARAH PERKEMBANGAN FARMASI DALAM ISLAM

Peradaban Islam sendiri dikenal karena perkembangan ilmu pengetahuan, salah satunya adalah farmasi. Ilmu tentang obat-obatan ini menjadi acuan perkembangan kedokteran di berbagai peradaban. Kesehatan masyarakat dapat menjadi lebih baik apabila dikuasainya tradisi farmasi dan kedokteran. Banyak orang terlindungi dari serangan berbagai penyakit dan ancaman kesehatan. Islam merupakan peradaban yang sangat memperhatikan perkembangan farmasi.

Menurut Abu Al-Wafar Abdul Akhir, sejarah farmasi islam terbagi dalam empat fase :

  1. Fase pertama adalah hasil kerja keras pakar kimia muslim, sekaligus perintis ilmu farmasi Jabir bin Hayyan (720 M-815 M)
  2. Fase kedua, ilmu farmasi dikembangkan oleh Yuhanna Ibnu Masawayh (777-857 M), Al-Kindi (809-873) dan diakhiri nantinya oleh Zakariya Ar-Razi (864 M-930 M)
  3. Fase ketiga, ilmu kedokteran dan farmasi melalui tangan Al-Zahrawi (936-1013), Ibnu Sina (980-1037) dan diakhiri fase ini oleh Ibnu Aldan Abu Ja’far Al-Ghafiqi (Wafat 1165 M)
  4. Fase keempat, para ilmuwan mulai memperluas studi mereka lewat perindustrian di bidang farmasi yang diakhiri dengan seni menyajikan obat-obatan. Empat ilmuwan tersebut yaitu Ibnu Zuhr (1091-1131 M), Ibnu Thufayl (1112-1186 M), Ibnu Rusyd (1128-1198 M), dan Ibnu Al-Baythar (1197-1248 M).

     Eksistensi ilmu farmasi tidak bisa dilepaskan dari kejayaan peradaban islam. Dimana para ilmuwan muslim pada zaman terdahulu juga melakukan transfer pengetahuan tentang obat-obatan dari berbagai naskah yang berasal dari Yunani, China, Persia. Peradaban islam merupakan peradaban yang telah merintis bidang farmasi, bahkan banyak para ilmuwan muslim di era kejayaan islam sudah berhasil menguasai riset ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, serta efek dari obat-obatan sederhana dan campuran.

 

     Tidak hanya menguasai bidang farmasi, masyarakat muslim tercatat sebagai peradaban pertama yang mempunyai apotek dan toko obat. Apotek pertama yang ada di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Hal ini menepis persepsi anggapan bahwa apotek dan ilmu farmasi berasal dari barat, yang dimana apotek di barat baru ada sekitar tahun 1400 M atau akhir abad ke-14 M.

Islam dan peradabannya mendominasi bidang farmasi sampai abad ke-17. Setelah era kejayaan islam memudar, ilmu meracik dan membuat obat-obatan dikuasai oleh dunia barat yang telah bangkit dari masa kegelapannya. Hal itu dimulai dengan dilakukannya penerjemahan kitab-kitab berbahasa arab karya para ilmuwan muslim, ke dalam bahasa-bahasa yang ada di Eropa. Tidak heran jika industri farmasi dunia kini berada dalam genggaman dunia barat sekaligus ini menjadi bukti bahwa peradaban islam mempunyai peranan penting dalam kebangkitan peradaban barat dalam bidang farmasi.

Literatur:

Munandar, Haris. 2020. Farmasi Dalam Perspektif Islam. Medan: CV. Manhaji Medan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *